Pages

Saturday, August 30, 2014

Cara dan Teknis Kerja Membuat Bekisting Sloof Bangunan

Cara dan Teknis Kerja Membuat Bekisting Sloof  Bangunan :

1. Sloof yang dipasang Duduk diatas Tanah langsung (Sloof Duduk diatas Tanah)

a. Setelah Besi Sloof dipasang (dirangkai) diatas Tanah, Papan/Tripleks Bekisting Sloof dipasang Tegak di kedua Sisi Luarnya (Beri Jarak 2,5 s/d 3 cm) untuk Selimut Beton. Lalu Papan/Tripleks Bekisting tersebut diperkuat dengan Skor Kayu agar tidak rusak dan pecah pada saat pengecoran

b. Pemasangan Bekisting Sloof bisa juga dilakukan sebelum Besi Tulangan Sloof dipasang. Lalu diperkuat dengan Skor Kayu pada jarak tertentu agar Bekisting tersebut kuat dan (tidak rusak saat pengecoran).

Cara dan Teknis Kerja Membuat Bekisting Sloof  Bangunan

2. Sloof yang dipasang Gantung (tidak duduk diatas Tanah)

a. Kondisi seperti ini bisa terjadi karena Tapak Sloof (bottom) yang kita rencanakan ternyata lebih tinggi dari Permukaan Tanah yang ada.

Cara dan Teknis Kerja Membuat Bekisting Sloof  Bangunan

b. Bekisting dibuat dengan terlebih dahulu membuat Papan/Tripleks pada Bagian Bawah Sloof (gantung diatas Tanah) dan disokong ke Tanah agar tidak melendut (melengkung). Lalu Papan/Tripleks  dipasang pada kedua Sisi Dindingnya (kiri dan kanan), yang kemudian diperkuat dengan Skor Kayu pada semua sisi yang dianggap perlu (agar Bekisting tersebut kuat dan tidak rusak pada saat pengecoran).

Cara Dan Tips Membuat Sloof Pada Bangunan Rumah

Sloof yaitu susunan dari bangunan yang terdapat di atas fondasi, berperan untuk meratakan beban yang di terima oleh fondasi, juga berpungsi sebagi pengunci dinding supaya jika berlangsung pergerakan pada tanah, dinding tidak roboh.

Sehingga sloof amat berperan sekali pada kekuatan dari bangunan, bahan yang dipakai yaitu beton dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 split ( koral ).

Dimensi sloof yang kerap dipakai pada bangunan tempat tinggal lantai satu, lebar 15 cm, tinggi 20 cm, besi beton tulangan utama menggunakan 4 buah diameter 10 mm ( 4 d 10 ) namun untuk begel menggunakan diameter 8 mm berjarak 15 cm ( d 8 – 15 ).

Di bawah ini gamabar sloof untuk bangunan tempat tinggal lantai satu.

Cara Dan Tips Membuat Sloof Pada Bangunan Rumah
Untuk tempat tinggal lantai dua, dimensi sloof yang kerap dipakai adalah, lebar 20 cm tinggi
30 cm, besi beton utama 8 d 12 mm, begel d8 – 10 cm.

Cara Dan Tips Membuat Sloof Pada Bangunan Rumah

Defenisi Dan Fungsi Sloof Beton Pada Bangunan Rumah

Sloof adalah jenis Konstruksi Beton Bertulang yang biasanya dibuat pada bangunan Rumah atau Gedung, dan posisinya biasanya pada Lantai 1 (ada juga yang menyebutkannya Lantai Dasar). Seperti dapat kita lihat pada Gambar diatas.

 Defenisi Dan Fungsi Sloof Beton Pada Bangunan Rumah
Sloof ini berfungsi untuk memikul Beban dinding (bisa Dinding dari Batu bata, Batako, dsb.), sehingga dinding tersebut "duduk" pada beton yang kuat, sehingga tidak terjadi "penurunan dan pergerakan" yang bisa mengakibatkan dinding rumah menjadi Retak atau Pecah.

Jadi bisa dikatakan Sloof juga merupakan salah satu Pondasi bagi rumah. Spesifiknya adalah mendukung beban dinding rumah tersebut. Bila dikategorikan Sloof adalah termasuk Pondasi Menerus.

 Defenisi Dan Fungsi Sloof Beton Pada Bangunan Rumah
Sloof adalah jenis Konstruksi Beton Bertulang yang sengaja didisain khusus Luas Penampang dan Jumlah Pembesiannya, disesuaikan dengan kebutuhan Beban yang akan dipikul oleh Sloof tersebut nantinya.

Untuk menetukan Luas Penampang (ukuran Sloof ini), dibutuhkan "Perhitungan Teknis yang Tepat" agar Sloof tersebut nanti "benar-benar Mampu" untuk memikul Beban Dinding Bata diatasnya nanti.

Untuk itu sebaiknya kita menggunakan jasa Konsultan untuk menghitung dan mendisain Dimensi Sloof ini.

Friday, August 29, 2014

Kelebihan dan Kekurangan Pintu Berdasarkan Bahan Bakunya

1. Pintu Aluminium

Pintu jenis ini biasanya dilapisi dengan warna kesukaan anda. Bisa cocok dikebanyakan desain interior kontemporer. Pintu aluminium secara umum dibuat dari bahan kaca yang dibingkai aluminium.

Kelebihan : tidak memerlukan perbaikan atau perawatan cat ulang.

Kekurangan : tidak bisa dilapisi lagi, dipastikan warnanya bila anda membeli.

Kelebihan dan Kekurangan Pintu Berdasarkan Bahan Bakunya
2. Pintu Kayu

Kebanyakan pintu kayu dibuat bukan dari bahan kayu solid alias padat. Beberapa pintu dibuat dengan kepadatan medium fibreboard inti. Ada juga yang dibuat dari bahan polyboard. Pilihan paling ringan adalah pintu yang menggunakan bahan inti honeycomb yang terbuat dari karton.

Kelebihan : sangat cocok untuk rumah yang bergaya klasik, abadi rapi dan elegan, lebih murah gaya, dan kayu stained menciptakan suasana ruangan yang hangat.

Kekurangan : hati-hati memilih pintu berbahan inti honeycomb yang kualitasnya buruk bisa mengurangi kekuatan dan kurang kedap suara, butuh pemeliharaan rutin seperti sering dicat dan divernis.

3. Pintu Louvre

Pintu jenis ini mempunyai irisan-irisan horizontal yang dapat dibuka untuk aliran udara apabila menginginkan privasi dan keamanan.

Kelebihan : tetap ada aliran udara bahkan bila pintu ditutup.

Kekurangan : lebih sulit dibersihkan dan harus memastikan pekerjaan mekaniknya halus dan dapat menghalangi pemandangan.

4. Pintu Flush

Ini adalah pintu paling sederhana dari pintu-pintu yang ada. Ini karena permukaan pintu rata seluruhnya. Pintu flush biasanya digunakan untuk bagian dalam rumah dan dibuat dari fiberglass atau kayu.

Kelebihan : harga lebih murah dan sesuai dengan berbagai keuangan.

Kerugian : permukaan dapat tidak tembus cahaya.dan tanpa dekor, tidak cocok untuk pintu utama.

5. Pintu Rel

Gaya pintu yang lebih tua ini dibuat dari serpihan kayu atau kompresan kayu. Sebutannya tergantung pada komponen-komponennya. Untuk komponen vertikal disebut stiles dan komponen horizontal disebut rel.

Kelebihan : konstruksi padat dapat menghalang suara dan menahan suhu dalam ruangan serta paling cocok untuk desain federasi atau rumah yang country.

Kekurangan : kurang cocok untuk interior desain contenporer serta permukaan padat tidak tembus cahaya.

6. Pintu Swing/Pintu kupu-kupu

Pintu Swing atau lebih sering disebut pintu kupu-kupu adalah jenis paling umum, pintu dapat berputar satu putaran sudut, dan kadang-kadang digunakan sepasang seperti pintu-pintu ditempat minum kecil yang anda dapat temukan didapur.

Kelebihan : engsel lebih mudah dipasang dibanding dengan rel dan lebih mudah untuk dirawat, tidak perlu rel untuk bantalan pintu.

Kekurangan : butuh rungan mengayunkan pintu untuk membuka pintu, mungkin sukar untuk mendapatkan dengan posisi tempat pintu.

7. Pintu Geser

Pintu ini biasanya digunakan untuk menuju taman belakang. Kaca yang besar ventilasi bagus bila dibuka. Dorong yang padat dapat digunakan didalam rumah apabila ruang terbatas dan tidak cukup untuk pintu satu sayap. Sangat bermanfaat didalam kamar mandi. Pintu geser sering disebut pintu kantung karena digeser kedalam kantung dibalik dinding ketika pintu dalam posisi dibuka.

Kelebihan : memerlukan ruangan yang lebih sedikit dibanding dengan pintu satu sayap biasa dan pintu dorong dapat disembunyikan, memberikan satu kesan yang bersih dan rapi.

Kekurangan : harus mempunyai struktur bantalan beban kuat diatas untuk menggantung, dapat dilepas dari rel pengaman dan rel pintu susah untuk dipasang.

Perbandingan Kusen Kayu Dan Kusen Alumunium

Kusen Aluminium

Plus / Kelebihan :

Tahan keropos. Mengurangi kemungkinan dimakan rayap.

Bahan aluminium lebih tahan lama, anti rayap, tidak menyusut seperti kayu, tidak akan mengalami penyusutan dan perubahan bentuk / melengkung akibat perubahan cuaca.

Tampilan kusen aluminium dapat dicat atau dilapis dengan warna kayu bahkan motif kayu sehingga menyerupai kayu.

Perbandingan Kusen Kayu Dan Kusen Alumunium
Desain dapat dibuat sesuai pesanan. Keunggulan kusen aluminium adalah bobotnya yang ringan dan kuat sehingga mudah dipindahkan. Perawatannya yang simpel menjadi daya tarik bagi pembelinya disamping kualitas bahan aluminium.

Ekonomis. Artinya biaya proses pembuatan, pemasangan dan perawatan untuk kusen aluminium lebih murah.

Minus / Kekurangan:

Variasi bentuk terbatas, karena merupakan standart pabrik, hanya terbatas pada bentuk minimalis dan klasik Eropa.

Pemasangan dengan menggunakan sistem fischer. Teknik ini mengandalkan kekuatan sekrup fischer yang diborkan dan ditanam bersama kusen merapat ke tembok sekeliling kusen pintu yang sudah diplester rapi. Untuk teknik pemasangan ini, apabila terjadi kesalahan dalam pemasangannya maka dapat berakibat fatal.

Cara pemasangan kusen aluminium mengandalkan kekuatan sekrup yang dipasangkan melekat pada dinding menjadikannya harus dipasang dengan presisi dan diplester rapi agar tidak terjadi kebocoran dan kesalahan lainnya. Disarankan untuk tidak memilih kusen aluminium yang bermutu rendah, karena dapat mudah memuai saat terjadi perubahan suhu drastis karena kaca yang dibingkai dapat mudah lepas.

Sambungan yang kurang baik pada siku atau kaca dapat menyebabkan air hujan dapat masuk, karena itu faktor penyambungan dan ‘sealant’ atau karet penyekat antara kaca dan alumunium harus dari bahan berkualitas dan tahan lama agar air tidak mudah masuk ke dalam kusen atau ke ruangan.

Kusen Kayu

Plus / Kelebihan :

Tersedia beragam variasi bentuk sesuai kebutuhan ( tradisional, modern, minimalis, klasik, dll )

Kusen kayu bisa diterapkan pada design rumah tipe apa saja.

Kayu memiliki keunggulan dibanding material lainnya yaitu tampilan natural sesuai jenis kayu.

Material kayu banyak yang kuat menurut jenisnya seperti kayu jati, kaper, atau ulin, melalui proses pengovenan yang baik.

Kayu memang fleksibel untuk dirubah bentuknya sesuai desain, seperti bentuk lurus atau melengkung, dan dapat menahan panas atau dingin dari luar ruangan

Rumah akan tampil lebih alami dengan adanya ornament kusen kayu.

Minus / Kekurangan:

Sulit menjangkau kayu dengan kualitas baik.

Mudah dimakan rayap, perawatan secara berkala dengan cat atau coating agar tetap awet, dan menyerap air sehingga menyebabkan volume kayu dapat berubah-ubah.   Akibatnya pintu atau jendela sulit dibuka karena salah satu sudutnya memuai.

Kayu yang digunakan untuk kuda-kuda, gording, usuk dan reng pada atap bisa mengalami ‘puntir’ bila yang digunakan kayu dengan kualitas buruk.

Lebih mahal dibanding aluminium, dalam pengertian biaya proses pembuatan, pemasangan dan perawatan untuk kusen kayu lebih mahal.

Thursday, August 28, 2014

Memilih Pintu Kayu Sebagai Pintu Rumah

Pintu merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah rumah, sebuah pintu sangat penting karena dapat memberikan keamanan dan perlindungan gangguan dari luar yang mungkin dapat mengancam penghuni rumah dan isi rumah. Namun begitu, pintu juga bisa memberikan rasa nyaman, tenang dan keindahan, terutama jika kita memilih pintu kayu sebagai pintu rumah.

Pintu kayu lebih disukai oleh banyak orang ketimbang pintu dari bahan lain, hal ini dikarenakan pintu kayu mampu memberikan fungsi utamanya sebagai perlindungan dan keamanan dari luar. Selain itu, pintu kayu juga dapat memberikan rasa tenang, nyaman, elegan dan keindahan yang jarang diberikan oleh jenis pintu bahan lain.
Memilih Pintu Kayu Sebagai Pintu Rumah
Pintu kayu juga memiliki ketahanan terhadap cuaca, tahan lama, dan mudah di olah dan dipareasikan sesuai dengan keinginan kita. Bahan alami kayu juga dapat memberikan efek mengurangi pantulan suara, dan juga lebih ramah terhadap lingkungan serta memberikan kesan akrab

Jenis Kayu Untuk Pintu
Terdapat beberapa jenis kayu yang cocok digunakan sebagai pintu rumah, yaitu:
Kayu Jati
Kayu Sonokeling
Kayu Kamper
Kayu mahoni
Kayu Merbau
Kayu Meranti
Cara memilih pintu kayu sebagai pintu rumah :

Ada beberapa cara memilih pintu kayu sebagai pintu rumah yang bisa diikuti agar pas dengan desain rumah kita. berikut beberapa cara memilih pintu kayu sebagai pintu rumah.

Menentukan jenis kayu yang digunakan
Hampir semua jenis kayu keras dapat dipakai untuk membuat pintu rumah, namun dikhususkan bagi pintu rumah utama atau pintu yang berhubungan secara langsung dengan kondisi luar sebaiknya dipilih kayu yang kuat dan tahan terhadap pengaruh cuaca seperti panas dan hujan. Ini bertujuan supaya pintu tersebut tidak mudah rusak atau keropos, serta dapat mempertahankan faktor keamanan kita. Beberapa jenis kayu yang cocok dan lazim digunakan untuk bagian ini antara lain : kayu jati, kayu sonokeling, kayu kamper, dan kayu mahoni.

Tebal pintu
Buatlah pintu dengan ketebalan 4 centimeter (disarankan) atau minimal memiliki ketebalan 3,5 centimeter. Ini bertujuan agar pintu tersebut benar-benar kuat dan aman.

Tingkat kekeringan kayu
Pastikan kayu yang digunakan benar-benar kering atau hasil oven, kayu pintu yang masih basah akan membuat pintu lebih mudah melengkung. Pintu rumah yang melengkung akan sulit dibuka tutup karena posisi pintu akan berubah dan tidak pas lagi dengan kusennya.

Desain Pintu Kayu
Buatlah desain pintu kayu yang sesuai dengan konsep rumah, contohnya : jika rumahnya berkonsep minimalis maka pilih desain pintu minimalis, sebaliknya, jika rumah tersebut berkonsep klasik, pilihlah pintu dengan ornamen ukiran. (Hanya untuk mempertegas dan mempercantik tampilan rumah)

Sesuaikan dengan fungsinya
Guna memaksimalkan ruangan sempit, kita dapat menyesuaikan dengan memilih pintu sliding atau pintu geser. Hal ini bertujuan agar tidak banyak space ruang yang terpakai hanya untuk pintu.

Pintu selalu merupakan bagian penting dari setiap rumah atau struktur bangunan. Pintu kayu merupakan pintu yang sangat bagus untuk semua rumah. Banyak rumah yang membuat desain pintunya menjadi klasik dan elegan. Pintu kayu tidaklah harus polos dan datar. Kita dapat memberikan goresan seni pada kayu tersebut.

Mengenal Jenis Kayu Dan Manfaatnya

Kegiatan penentuan jenis kayu (identifikasi jenis kayu) merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan pengujian dalam arti luas yaitu menentukan jenis kayu, mengukur dimensi kayu untuk mendapatkan volume serta menetapkan mutu.   Penentuan jenis kayu pada hakekatnya bukan hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan dalam pelaksanaan pengujian saja, namun amat penting artinya bagi semua pihak baik bagi pemerintah, pihak produsen maupun pihak konsumen.

Terkait dengan kepentingan pemerintah, penentuan jenis kayu berperan penting dalam menentukan besarnya pungutan negara (PSDH dan DR) yang dikenakan.  Pungutan pemerintah tersebut selain didasarkan atas wilayah asal kayu, juga didasarkan atas jenis kayu.    Disamping  secara  langsung   terkait   dengan  kepentingan pemerintah, penentuan jenis kayu memegang peranan penting dalam upaya ikut serta mencegah penyimpangan dimana suatu jenis kayu yang dilarang untuk ditebang/dipasarkan, diperdagangkan secara bebas dengan menggunakan nama lain.

Mengenal Jenis Kayu Dan Manfaatnya

Di pihak produsen, selain untuk memenuhi kewajiban dalam membayar pungutan yang dibebankan pemerintah, kepastian suatu jenis kayu juga penting artinya dalam proses produksi dan pemasaran.  Setiap jenis kayu mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda sehingga dalam pengolahannyapun memerlukan penanganan yang berbeda pula.  Sedangkan bagi konsumen, dengan adanya kepastian jenis kayu, akan lebih memudahkan untuk memilih kayu-kayu yang cocok untuk kepentingannya.

Metoda Pengenalan Jenis Kayu

Untuk mengenal/menentukan suatu jenis kayu, tidak selalu dilakukan dengan cara memeriksa kayu dalam bentuk log (kayu bundar), tetapi dapat dilakukan dengan memeriksa sepotong kecil kayu.  Penentuan jenis kayu dalam bentuk log, pada umumnya dengan cara memperhatikan sifat-sifat kayu yang mudah dilihat seperti penampakan kulit, warna kayu teras, arah serat, ada tidaknya getah dan sebagainya.

Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan (kayu gergajian, moulding, dan sebagainya) masih mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar yang mudah dilihat.  Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis)  memiliki gambar lingkaran tumbuh yang jelas). Namun apabila kayu tersebut diamati  dalam bentuk barang jadi dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi karena sudah dilapisi dengan cat, maka satu-satunya cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan jenisnya adalah dengan cara memeriksa sifat anatomi/strukturnya.  Demikian juga untuk kebanyakan kayu di Indonesia, dimana antar jenis kayu sukar untuk dibedakan, cara yang lebih lazim dipakai dalam penentuan je-nis kayu adalah dengan memeriksa sifat anatominya (sifat struktur).

Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat makroskopis) dan sifat struktur (disebut juga sifat mikroskopis).  Secara obyektif, sifat struktur atau mikroskopis lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau makroskopis dalam mengenal atau menentukan suatu jenis kayu.  Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini dapat dipergunakan secara bersama-sama, karena sifat fisik akan mendukung sifat struktur dalam menentukan jenis.

Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan,  pen-ciuman,  perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu.   Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :

1. warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
2. tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
3. arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
4. gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
5. berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
6. kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
7. lingkaran tumbuh,
8. bau, dan sebagainya.

Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan mempergunakan alat bantu, yaitu kaca pembesar (loupe) dengan  pembesaran 10 kali. Sifat struktur yang diamati adalah :

1. Pori (vessel) adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah longitudinal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori terlihat sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil maupun besar.  Pori dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan, isi, ukuran, jumlah dan bidang perforasi).

2. Parenkim (Parenchyma) adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk batu bata dengan arah longitudinal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang,  parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna yang lebih cerah dibanding dengan warna sel sekelilingnya.  Parenkim dapat dibedakan berdasarkan atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim paratrakeal (berhubungan dengan pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan dengan pori).

3. Jari-jari (Rays) adalah parenkim dengan arah horizontal.  Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-garis yang sejajar dengan warna yang lebih cerah dibanding warna sekelilingnya.  Jari-jari dapat dibedakan berdasarkan ukuran lebarnya dan keseragaman ukurannya.

4. Saluran interseluler  adalah saluran yang berada di antara sel-sel kayu yang berfungsi sebagai saluran khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis tertentu, misalnya beberapa jenis kayu dalam famili Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp), kapur (Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp), mersawa (Anisoptera spp), dan sebagainya. Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan atas saluran interseluler aksial (arah longitudinal) dan saluran interseluler radial (arah sejajar jari-jari). Pada bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada umumnya saluran interseluler aksial terlihat sebagai lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

5. Saluran getah adalah saluran yang berada dalam batang kayu, dan bentuknya seperti lensa. Saluran getah ini tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya terdapat pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.)

6. Tanda kerinyut adalah penampilan ujung jari-jari yang bertingkat-tingkat dan biasanya terlihat pada bidang tangensial.  Tanda kerinyut juga tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya pada jenis-jenis tertentu seperti kempas (Koompasia malaccensis) dan sonokembang (Pterocarpus indicus).

7. Gelam tersisip atau kulit tersisip adalah kulit yang berada di antara kayu, yang terbentuk sebagai akibat kesalahan kambium dalam membentuk kulit. Gelam tersisip juga tidak selalu ada pada setiap jenis kayu.  Jenis-jenis kayu yang sering memiliki gelam tersisip adalah karas (Aquilaria spp), jati (Tectona grandis) dan api-api (Avicennia spp).

Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat struktur kayu daun lebar dan sifat struktur kayu daun jarum.  Kayu-kayu daun jarum tidak mempunyai pori-pori kayu seperti halnya kayu-kayu daun lebar.

Untuk menentukan jenis sepotong kayu, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa sifat kasarnya.  Apabila dengan cara tersebut belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka terhadap kayu tersebut dilakukan pemeriksaan sifat strukturnya dengan mempergunakan loupe.

Untuk memudahkan dalam menentukan suatu jenis kayu, kita dapat mempergunakan kunci pengenalan jenis kayu. Kunci pengenalan jenis kayu pada dasarnya merupakan suatu kumpulan keterangan tentang sifat-sifat kayu yang telah dikenal, baik sifat struktur maupun sifat kasarnya.  Sifat-sifat tersebut kemudian didokumentasikan dalam bentuk kartu (sistim kartu) atau dalam bentuk percabangan dua (sistem dikotom).

Pada sistem kartu,  dibuat kartu dengan ukuran tertentu (misalnya ukuran kartu pos). Disekeliling kartu tersebut dicantunkan  keterangan sifat-sifat kayu, dan pada bagian tengahnya tertera nama jenis kayu. Sebagai contoh, kayu yang akan ditentukan jenisnya,  diperiksa sifat-sifatnya. Berdasarkan sifat-sifati tersebut, sifat kayu yang tertulis pada kartu ditusuk dengan sebatang kawat dan digoyang sampai ada kartu yang jatuh.  Apabila kartu yang jatuh lebih dari satu kartu, dengan cara yang sama kartu-kartu itu kemudian ditusuk pada sifat lain sesuai dengan hasil pemeriksaan sampai akhirnya tersisa satu kartu.  Sebagai hasilnya, nama jenis yang tertera pada kartu terakhir tersebut merupakan nama jenis kayu yang diidentifikasi.

Dikotom berarti percabangan, pembagian atau pengelompokan dua-dua atas dasar persamaan sifat-sifat kayu yang diamati.   Kayu yang akan ditentukan jenisnya diperiksa sifat-sifatnya, dan kemudian dengan mempergunakan kunci dikotom, dilakukan penelusuran sesuai dengan sifat yang diamati sampai diperolehnya nama jenis kayu yang dimaksud.

Kunci cara pengenalan jenis kayu di atas, baik sistem kartu maupun dengan sistem dikotom, keduanya mempunyai kelemahan.  Kesulitan tersebut adalah apabila kayu yang akan ditentukan jenisnya tidak termasuk ke dalam koleksi.  Walaupun sistem kartu ataupun sistem dikotom digunakan untuk menetapkan jenis kayu, keduanya tidak akan dapat membantu mendapatkan nama jenis kayu yang dimaksud.   Dengan demikian, semakin banyak koleksi kayu yang dimiliki disertai dengan pengumpulan mengumpulkan sifat-sifatnya ke dalam sistem kartu atau sistem dikotom, akan semakin mudah dalam menentukan  suatu jenis kayu.